Sidarto Danusubroto merupakan salah satu tokoh senior PDI Perjuangan yang memiliki perjalanan karier panjang di bidang kepolisian dan politik. Ia dikenal sebagai mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, anggota DPR RI selama tiga periode, serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Selain itu, namanya juga lekat dengan sejarah Presiden Soekarno karena pernah menjadi ajudan presiden pertama Republik Indonesia pada masa-masa akhir pemerintahannya. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Yogyakarta, tempat ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah. Setelah lulus SMA, ia memilih berkarier di kepolisian dan menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Pendidikan tersebut menjadi pintu masuk bagi karier panjangnya di institusi Polri.
Karier Sidarto di kepolisian berkembang pesat. Ia pernah menjabat Kapolres Tangerang, Kepala Dinas Penerangan Polri, Kepala Interpol Indonesia, Kapolda Sumatera Bagian Selatan, hingga Kapolda Jawa Barat. Pangkat terakhir yang disandangnya adalah Inspektur Jenderal Polisi sebelum memasuki masa pensiun pada 1991. Salah satu pengalaman yang paling sering dikaitkan dengan namanya adalah saat menjadi ajudan Presiden Soekarno pada masa transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Setelah pensiun dari kepolisian, Sidarto sempat berkiprah di sektor swasta sebelum akhirnya terjun ke dunia politik pada era Reformasi. Ia bergabung dengan PDI Perjuangan dan berhasil terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 1999. Kepercayaan masyarakat terus mengantarkannya kembali ke Senayan pada Pemilu 2004 dan 2009. Selama menjadi anggota DPR RI, ia aktif di bidang pertahanan, hukum, dan hubungan luar negeri.
Puncak karier politik Sidarto Danusubroto terjadi pada 2013 ketika ia ditunjuk menjadi Ketua MPR RI menggantikan Taufiq Kiemas yang wafat saat masih menjabat. Ia memimpin MPR hingga berakhirnya masa jabatan periode 2009–2014. Setelah itu, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada 2015 dan kembali mempercayainya untuk periode 2019–2024. Sebagai politikus senior, Sidarto dikenal sebagai figur yang konsisten menjaga nilai-nilai nasionalisme dan ajaran Bung Karno. Pengalaman panjangnya sebagai perwira polisi, legislator, hingga pimpinan lembaga negara menjadikannya salah satu tokoh yang memiliki pengaruh dalam perjalanan politik Indonesia pascareformasi.
